Menjelajah Dunia "Terbalik" Al-Idrisi: Saat Nusantara Sudah Mendunia di Abad ke-12

Pernahkah Anda membayangkan bagaimana orang-orang di abad pertengahan melihat dunia tanpa bantuan satelit atau Google Maps?


Jauh sebelum era penjelajahan samudra dimulai, seorang ilmuwan jenius bernama Muhammad al-Idrisi sudah berhasil memetakan dunia dengan akurasi yang bikin geleng-geleng kepala. Dibuat pada tahun 1154 atas perintah Raja Roger II dari Sisilia, peta yang dikenal sebagai Tabula Rogeriana ini bukan sekadar coretan di atas kertas. Ini adalah proyek ambisius yang menggabungkan data intelijen para pelaut, perhitungan astronomi, dan seni tingkat tinggi.


Ada yang unik dari peta ini: bagi mata kita sekarang, petanya terlihat "terbalik" karena menempatkan Selatan di bagian atas. Namun, di balik keunikan visualnya, ada fakta yang membanggakan—kepulauan Nusantara ternyata sudah tercatat rapi sebagai pusat rempah dunia dalam mahakarya ini.


Dalam artikel ini, kita akan membedah rahasia di balik pembuatan peta Al-Idrisi, bukti keberaniannya menyatakan bumi itu bulat, hingga alasan mengapa benua seperti Amerika dan Antartika masih "absen" dari radarnya. Siapkan diri Anda untuk melihat dunia dari perspektif yang berbeda!


Peta Al-Idrisi—yang secara resmi dikenal dengan nama Tabula Rogeriana—adalah salah satu mahakarya kartografi abad pertengahan yang paling fenomenal.


Berikut adalah detail mengenai pembuatnya:


Sosok di Balik Peta

Peta ini dibuat oleh Muhammad al-Idrisi (lengkapnya: Abu Abdullah Muhammad al-Idrisi al-Qurtubi al-Hasani), seorang pakar geografi, kartografer, dan pengelana Muslim asal Ceuta, Maroko.


Sejarah Pembuatannya

  • Waktu: Selesai dikerjakan pada tahun 1154.
  • Penyokong (Sponsor): Al-Idrisi membuatnya atas perintah Raja Roger II dari Sisilia. Itulah sebabnya peta ini dinamakan Tabula Rogeriana (Kitab Roger).
  • Proses: Al-Idrisi menghabiskan waktu sekitar 15 tahun di istana Raja Roger II untuk mengumpulkan data dari para pedagang, pengelana, serta melakukan observasi langsung untuk memetakan dunia seakurat mungkin pada masa itu.

Keunikan Peta Al-Idrisi

Ada beberapa hal menarik yang membuat karya ini sangat legendaris di dunia sains:

  • Orientasi Selatan: Tidak seperti peta modern yang menempatkan Utara di atas, peta Al-Idrisi menempatkan Selatan di bagian atas. Jadi, jika Anda melihatnya pertama kali, peta ini akan tampak "terbalik".
  • Bentuk Bumi Bulat: Al-Idrisi sudah meyakini bahwa bumi berbentuk bulat. Ia bahkan membuat salinan peta ini dalam bentuk bola perak (planisfer) seberat 400 pon untuk Raja Roger.
  • Akurasi Tinggi: Peta ini mencakup wilayah Eurasia dan Afrika Utara dengan sangat detail, termasuk sumber sungai Nil dan berbagai jalur perdagangan penting.

 

Menariknya, meskipun dibuat pada tahun 1154 di Sisilia (Italia), Muhammad al-Idrisi sudah memasukkan wilayah Nusantara ke dalam petanya, meski dengan nama dan bentuk yang disesuaikan dengan pengetahuan para pelaut Arab dan pedagang masa itu.


Berikut adalah beberapa rincian mengenai wilayah Nusantara (Indonesia) dalam peta Al-Idrisi:


1. Nama-Nama Wilayah (Toponimi)

Al-Idrisi menyebutkan beberapa nama tempat yang diidentifikasi oleh para sejarawan sebagai bagian dari Indonesia:

  • Zabaj (Jawa/Sumatra): Nama ini sering digunakan oleh penjelajah Arab untuk merujuk pada kerajaan besar di kepulauan, kemungkinan besar merujuk pada Kerajaan Sriwijaya atau wilayah Jawa dan Sumatra secara umum.
  • Qumayr: Sering dikaitkan dengan wilayah di Kepulauan Melayu atau Indochina yang memiliki hubungan dagang erat dengan kepulauan kita.
  • Kepulauan Rempah: Al-Idrisi mencatat pulau-pulau yang menghasilkan cengkih dan pala, yang menunjukkan bahwa pengetahuan tentang Maluku sudah sampai ke telinga para ilmuwan di Laut Tengah melalui jalur perdagangan sutra laut.

2. Deskripsi Geografis

Dalam bukunya Nuzhat al-Mushtaq (komentar yang menyertai peta tersebut), Al-Idrisi mendeskripsikan kepulauan ini sebagai:

  • Pusat Perdagangan: Tempat bertemunya pedagang dari Tiongkok, India, dan Arab.
  • Kekayaan Alam: Ia menulis tentang emas, kapur barus (dari Barus, Sumatra), kelapa, dan berbagai jenis rempah-rempah yang tidak ditemukan di tempat lain.

3. Bentuk dalam Peta

Jika Anda melihat peta aslinya, wilayah Nusantara terletak di bagian kanan atas (karena orientasi petanya terbalik, Selatan di atas). Kepulauan Indonesia digambarkan sebagai gugusan pulau-pulau besar dan kecil di ujung timur samudra yang mereka sebut "Laut Sanji" atau Samudra Hindia.


Mengapa ini Luar Biasa?

Pada abad ke-12, belum ada teknologi GPS atau satelit. Al-Idrisi mendapatkan informasi ini dengan:

  1. Mewawancarai Pelaut: Ia secara sistematis menanyai para pelaut yang baru pulang dari pelayaran jauh ke arah Timur.
  2. Membandingkan Data: Jika dua pelaut memberikan deskripsi yang berbeda tentang satu pulau, ia akan mencari narasumber ketiga untuk verifikasi.

Ini membuktikan bahwa sejak hampir 900 tahun yang lalu, wilayah Indonesia sudah dikenal secara internasional sebagai pusat komoditas penting dunia.


Peta Muhammad al-Idrisi - "Salinan manuskrip Nuzhat al-Mushtaq karya Al-Idrisi (1154), koleksi Bibliothèque nationale de France, MS Arabe 2221."

Perlu diingat saat melihat peta ini:


Selatan di Atas: Bagian atas peta adalah arah Selatan, sedangkan bagian bawah adalah Utara. Jadi, benua Afrika berada di bagian atas dan Eropa di bagian bawah.

Warna Biru: Menunjukkan laut dan samudra (termasuk Samudra Hindia dan Laut Mediterania).

Garis-garis: Al-Idrisi membagi dunia menjadi 7 zona iklim yang berbeda secara horizontal untuk mempermudah navigasi dan pemahaman geografis.


Ada alasan ilmiah dan historis mengapa Antartika "absen" dari peta Al-Idrisi tahun 1154 tersebut.


Berikut adalah beberapa alasan utamanya:


1. Keterbatasan Jangkauan Penjelajahan


Pada abad ke-12, penjelajahan samudra masih sangat bergantung pada garis pantai dan angin muson. Para pelaut Arab, Eropa, maupun Tiongkok saat itu paling jauh hanya mencapai:

  • Selatan: Pantai timur Afrika (wilayah yang sekarang disebut Mozambik).
  • Utara: Wilayah Skandinavia dan Rusia.
  • Timur: Kepulauan Nusantara dan pesisir Tiongkok.

Antartika baru benar-benar ditemukan secara resmi pada tahun 1820, atau sekitar 666 tahun setelah Al-Idrisi meninggal.


2. Konsep "Lautan yang Mengelilingi"

Dalam kosmologi geografi abad pertengahan, para ilmuwan (termasuk Al-Idrisi) percaya bahwa daratan dunia dikelilingi oleh sebuah samudra luas yang tak berujung yang disebut "Samudra Keliling" (Al-Bahr al-Muhit). Mereka menganggap wilayah yang terlalu jauh ke selatan atau terlalu jauh ke utara sebagai zona yang tidak bisa dihuni karena suhu yang ekstrem (terlalu panas di khatulistiwa atau terlalu dingin di kutub).


3. Teori Terra Australis Incognita

Meskipun Antartika tidak ada di peta Al-Idrisi, para pemikir Yunani kuno seperti Aristoteles sebenarnya sudah berteori bahwa harus ada "Daratan Selatan yang Tidak Diketahui" (Terra Australis Incognita) untuk menjaga keseimbangan bumi agar tidak "berat atas". Namun, karena belum ada yang pernah ke sana, Al-Idrisi sebagai ilmuwan yang sangat menjunjung data empiris (berdasarkan laporan nyata) memilih untuk tidak menggambar sesuatu yang belum terbukti keberadaannya.


Perbandingan dengan Peta Modern

Jika kita membandingkan struktur peta Al-Idrisi dengan peta dunia modern, perbedaannya sangat mencolok karena perkembangan teknologi navigasi:


Fitur

Peta Al-Idrisi (1154)

Peta Modern (Sekarang)

Cakupan

Hanya Eurasia & Afrika Utara

Seluruh Dunia (termasuk Antartika)

Orientasi

Selatan di Atas

Utara di Atas

Akurasi Benua

Berdasarkan testimoni lisan

Berdasarkan Citra Satelit

Benua Amerika

Belum ditemukan

Terpetakan sempurna


Menariknya, Al-Idrisi adalah salah satu orang pertama yang menegaskan bahwa bumi itu bulat seperti bola, namun ia tidak menyangka bahwa di ujung selatan yang beku itu terdapat benua raksasa.


Selain Antartika, ada beberapa wilayah besar lainnya yang "hilang" atau terlihat sangat berbeda dalam peta Al-Idrisi tahun 1154. Hal ini dikarenakan keterbatasan jangkauan penjelajahan manusia pada abad ke-12.


Berikut adalah beberapa "misteri" besar lainnya di peta tersebut:


1. Benua Amerika (Benua Merah)

Ini adalah kehilangan terbesar. Dalam peta Al-Idrisi, Samudra Atlantik (yang mereka sebut Bahr al-Zulumat atau "Lautan Kegelapan") dianggap sebagai ujung dunia sebelah barat.

  • Alasannya: Christopher Columbus baru berlayar ke arah barat pada tahun 1492, lebih dari 300 tahun setelah peta ini dibuat. Jadi, bagi Al-Idrisi dan orang-orang sezamannya, benua Amerika sama sekali tidak ada dalam peta dunia mereka.

2. Benua Australia

Sama seperti Antartika, Australia juga tidak ada.

  • Bentuknya di Peta: Di bagian tenggara (wilayah Nusantara), Al-Idrisi hanya menggambarkan gugusan pulau-pulau besar dan kecil. Karena para pelaut saat itu biasanya hanya sampai di Timor atau Maluku untuk mencari rempah-rempah dan tidak terus berlayar ke selatan melewati gurun yang luas, keberadaan benua Australia tetap menjadi misteri hingga penjelajahan bangsa Eropa di abad ke-17.

3. Bentuk Afrika yang "Melengkung"

Jika Anda melihat bagian atas peta Al-Idrisi (Selatan):

  • Pesisir timur Afrika digambarkan melengkung jauh ke arah timur hingga hampir menyentuh Asia Tenggara.
  • Mitos: Para geografer Muslim saat itu percaya bahwa Samudra Hindia adalah laut tertutup (seperti danau raksasa) yang dikelilingi daratan di sisi selatannya. Mereka belum tahu bahwa ada ujung selatan Afrika (Tanjung Harapan) yang bisa dilalui kapal untuk menuju ke Samudra Atlantik.

4. Skandinavia dan Wilayah Utara

Wilayah seperti Norwegia, Swedia, dan Islandia digambarkan sangat kecil dan tidak akurat bentuknya. Al-Idrisi menyebutnya sebagai wilayah yang sangat dingin dan sulit dihuni, sehingga informasi yang ia dapatkan dari wilayah utara jauh lebih sedikit dibandingkan wilayah Mediterania atau Timur Tengah.



Kesimpulan Menarik

Meskipun banyak wilayah yang "hilang", peta Al-Idrisi tetap dianggap peta yang paling maju di zamannya karena:

  1. Sudah mencantumkan Sungai Nil dengan sumbernya di pegunungan (yang terbukti benar berabad-abad kemudian).
  2. Sudah menggambarkan Laut Kaspia sebagai laut tertutup (bukan teluk samudra), sebuah koreksi besar terhadap peta-peta Yunani kuno.

Peta ini membuktikan bahwa ilmu pengetahuan berkembang secara bertahap. Al-Idrisi menggambar "dunia yang dikenal" (The Known World), bukan seluruh planet bumi secara utuh seperti yang kita lihat di Google Maps sekarang.

 

Bukti bahwa Muhammad al-Idrisi meyakini bumi itu bulat dapat ditemukan baik dalam karya tulisnya maupun dalam benda fisik yang ia ciptakan untuk Raja Roger II.


Berikut adalah 3 bukti utama yang tercatat dalam sejarah:


1. Pernyataan Tertulis dalam Kitab Nuzhat al-Mushtaq

Dalam kata pengantar buku monumentalnya, Nuzhat al-Mushtaq fi Ikhtiraq al-Afaq (buku yang menyertai peta Tabula Rogeriana), Al-Idrisi menuliskan secara eksplisit:


"Bumi itu bulat seperti bola, dan air melekat padanya serta tetap berada di atasnya melalui keterikatan alami yang tidak pernah berubah."


Ia juga menjelaskan bahwa atmosfer mengelilingi bumi dari semua sisi, dan manusia tetap tegak di permukaannya karena gaya tarik (konsep awal gravitasi) yang ia ibaratkan seperti magnet yang menarik besi.


2. Pembuatan "Planisfer" (Bola Dunia) dari Perak


"Rekonstruksi modern Planisfer Perak Al-Idrisi (1154), berdasarkan deskripsi dalam manuskrip Nuzhat al-Mushtaq."


Ini adalah bukti fisik yang paling kuat. Sebelum menggambar peta di atas kertas (perkamen), Al-Idrisi membuat sebuah bola dunia raksasa yang terbuat dari perak murni seberat kurang lebih 400 pon (sekitar 180-200 kg).

  • Pada bola perak tersebut, ia memahat tujuh benua, jalur perdagangan, sungai, dan pegunungan.
  • Pemilihan bentuk bola (bukan lempengan datar) menunjukkan bahwa ia ingin merepresentasikan bentuk asli bumi kepada Raja Roger II.

Penting untuk diketahui bahwa bola dunia perak (planisfer) asli yang dibuat oleh Al-Idrisi untuk Raja Roger II telah hancur dan hilang saat terjadi kerusuhan di Sisilia pada tahun 1160.

Namun, berdasarkan deskripsi detail dalam bukunya Nuzhat al-Mushtaq, para sejarawan dan seniman telah membuat rekonstruksi untuk menggambarkan bagaimana rupa bola dunia perak seberat 400 pon tersebut.


3. Konsep Tujuh Iklim (Klimata)

Al-Idrisi membagi petanya menjadi tujuh zona iklim secara horizontal, mulai dari khatulistiwa hingga kutub. Pembagian ini didasarkan pada perhitungan astronomi Yunani (Ptolemaeus) yang hanya masuk akal jika diterapkan pada permukaan benda yang melengkung atau bulat. Ia menghitung durasi siang dan malam yang berbeda-beda di setiap zona tersebut, yang merupakan konsekuensi logis dari bentuk bumi yang bulat terhadap posisi matahari.


4. Analogi "Kuning Telur"

Al-Idrisi sering menggunakan analogi sederhana untuk menjelaskan posisi bumi di alam semesta. Ia mengibaratkan bumi seperti kuning telur di dalam telur; di mana bumi berada di tengah, dikelilingi oleh udara (putih telur) dan langit (cangkang telur).


Kesimpulan: Bagi ilmuwan Muslim abad ke-12 seperti Al-Idrisi, konsep bumi bulat bukanlah hal yang asing. Mereka mewarisi ilmu astronomi dari Yunani dan India, lalu menyempurnakannya dengan observasi navigasi para pelaut Arab. Al-Idrisi adalah sosok yang berhasil memvisualisasikan teori tersebut ke dalam bentuk peta dan globe yang paling akurat di zamannya.


Al-Idrisi sebenarnya tidak "menemukan" cara menghitung keliling bumi dari nol, melainkan ia menyempurnakan metode yang sudah ada dari para astronom Yunani (seperti Eratosthenes) dan ilmuwan Muslim era Khalifah Al-Ma'mun (seperti Al-Khawarizmi).


Berikut adalah cara ilmiah yang digunakan pada masa itu untuk membuktikan dan menghitung kebulatan bumi:


1. Metode Pengamatan Bintang (Astrolabe)

Al-Idrisi menggunakan alat bernama Astrolabe. Prinsipnya sederhana namun cerdas:

  • Jika seseorang berjalan ke arah Utara, posisi Bintang Kutub (Polaris) di langit akan terlihat semakin tinggi.
  • Jika seseorang berjalan ke arah Selatan, bintang tersebut akan terlihat semakin rendah hingga hilang di ufuk.
  • Logikanya: Perubahan sudut bintang ini hanya bisa terjadi jika permukaan yang dipijak adalah melengkung (busur lingkaran), bukan datar.

2. Menghitung Derajat Busur Bumi

Ilmuwan di era Al-Idrisi menghitung berapa jarak yang harus ditempuh di darat untuk mengubah posisi bintang sebesar 1 derajat.

  • Mereka mengirim dua kelompok penjelajah dari satu titik: satu ke Utara dan satu ke Selatan.
  • Mereka mengukur jarak perjalanan hingga sudut bintang berubah tepat satu derajat.
  • Setelah menemukan jarak per satu derajat (misalnya sekitar 111 km), mereka tinggal mengalikannya dengan 360 derajat (total lingkaran penuh).

3. Hasil Perhitungan Al-Idrisi

Berdasarkan data yang dikumpulkannya, Al-Idrisi mencatat bahwa keliling bumi adalah sekitar 22.900 mil (setara dengan kurang lebih 37.000 hingga 40.000 kilometer).

  • Faktanya: Keliling bumi asli di khatulistiwa adalah sekitar 40.075 km.
  • Ini berarti perhitungan Al-Idrisi dan ilmuwan sezamannya memiliki akurasi di atas 95%! Sebuah pencapaian luar biasa untuk teknologi abad ke-12.

Mengapa Al-Idrisi Begitu Yakin?


Selain matematika, Al-Idrisi memperhatikan fenomena alam yang sering dilihat pelaut:

  • Kapal di Ufuk: Saat kapal mendekat ke pelabuhan, yang terlihat pertama kali adalah ujung tiang layarnya, baru kemudian badan kapalnya. Jika bumi datar, seluruh bagian kapal seharusnya terlihat mengecil secara bersamaan.
  • Gerhana Bulan: Bayangan bumi yang jatuh ke bulan saat gerhana selalu berbentuk busur lingkaran. Hanya benda bulat (bola) yang selalu menghasilkan bayangan bulat dari sudut mana pun.



Daftar Pustaka:

Referensi Utama (Karya Al-Idrisi)

Al-Idrisi, Muhammad. (1154). Nuzhat al-Mushtaq fi Ikhtiraq al-Afaq (Judul Latin: Tabula Rogeriana). Palermo, Sisilia..

Referensi Sejarah dan Sains (Buku & Jurnal)

Ahmad, S. Maqbul. (1992). Cartography of al-Sharif al-Idrisi. Dalam J.B. Harley & David Woodward (Eds.), The History of Cartography, Vol. 2, Book 1: Cartography in the Traditional Islamic and South Asian Societies. University of Chicago Press.
Hourani, George F. (1995). Arab Seafaring in the Indian Ocean in Ancient and Early Medieval Times. Princeton University Press.
King, David A. (1999). World-Maps for Finding the Direction and Distance to Mecca: Innovation and Tradition in Islamic Science. Brill.
Lewis, Bernard. (1982). The Muslim Discovery of Europe. W.W. Norton & Company.

Sumber Digital dan Ensiklopedia

Encyclopaedia Britannica. Al-Idrisi: Arab Geographer and Cartographer.
UNESCO. The Book of Roger (Tabula Rogeriana). Memory of the World Register.
Metropolitan Museum of Art (The Met). The World of al-Idrisi.

Alat Navigasi yang Dibahas

North, John. (2008). Cosmos: An Illustrated History of Astronomy and Cosmology. University of Chicago Press.

Related Posts

Post a Comment

BERKOMENTARLAH DENGAN MENGGUNAKAN KALIMAT YANG SOPAN DAN RAMAH YA... THANKS... JBU...

أحدث أقدم